cerita inspirasi diriku ^^

Nama   : Retno Wulandari

NRP    : F24100131

Laskar : 2

Janganlah berputus asa dengan jalan yang sudah Dia gariskan untukmu. Tetaplah berpikir positif. Bukankah Dia lebih tahu apa yang baik dan kurang baik untukmu?

Yaaah.. kata-kata itu sudah sering saya dengar, bahkan terkadang justru saya yang mengajak orang lain untuk berpikir seperti itu. Tapi kenyataannya, memang benar, berkata itu mudah yang sulit itu menjalankannya.

Jujur saja, sampai saya menginjak bangku kelas 12 SMA, saya masih belum tahu mau melanjutkan studi kemana setelah saya lulus nanti? Kalaupun saya sudah menentukan pilihan, terbesit dalam pikiran, apakah saya mampu bertahan disana?

Akhirnya pada awal kelas 12 saya memantapkan niat untuk kuliah di program studi pendidikan dokter. Sudah terbayang dalam benak saya, beberapa tahun kemudian saya akan lulus dengan gelar dokter dan setelah itu melanjutkan studi menjadi dokter bedah.

Undangan PMDK dari berbagai Perguruan Tinggi terkemuka di Indonesia pun mulai berdatangan ke sekolah saya. Sampai suatu hari pada bulan Januari 2010, datanglah surat undangan PMDK dari Universitas Sebelas Maret (UNS). Itulah seleksi masuk perguruan tinggi pertama yang saya ikuti. Tentu saja saya mengambil jurusan pendidikan dokter sesuai dengan niat saya. Beberapa minggu berlalu, datanglah hari diumumkannya hasil seleksi PMDK UNS. Hasilnya….saya GAGAL!

Kecewa.. sedih.. sudah pasti saya rasakan. Tetapi saya tidak ingin terpuruk terus-menerus. Saat undangan PMDK Universitas Diponegoro (Undip) datang, saya kembali mendaftar pada program studi pendidikan dokter. Tetapi, Allah berkehendak lain. Saat tiba hari pengumuman, saya tidak  menemukan nama saya tercantum dalam calon mahasiswa/i yang diterima di Undip.

Sejak saat itu, nyali saya pun mulai menciut untuk tetap mengambil program studi pendidikan dokter. Saat saya mendaftar UM UGM dan Undip, saya sama sekali tidak mencantumkan pendidikan dokter dalam program studi pilihan saya. Saya hanya berani mendaftar program studi yang gradenya menengah kebawah dengan harapan saya dapat diterima. Tetapi kenyataan yang terjadi benar-benar jauh dari perkiraan saya. GAGAL!!

Saya frustasi, sangat frustasi. Empat kali kegagalan cukup membuat saya merasa kehilangan kepercayaan diri. Saat teman-teman yang lain sudah santai, saya justru harus berjuang lebih keras lagi. “Huufh..jurusan apapun deh, yang penting kuliah”, kira-kira begitulah pemikiran saya saat itu. Sampai-sampai saat mendaftar SMUP Unpad, saya nekat mengambil ilmu pemerintahan, program studi yang asal-asal saja saya ambil tanpa berpikir panjang saat melakukan pendaftarn online. Tetapi sayangnya, saat hari pelaksanaan seleksi, saya justru jatuh sakit. Mungkin saya belum terbiasa dengan dinginnya kota Bandung. Dan saat saya mendaftar STAN, dewi fortuna pun sepertinya masih belum juga berpihak pada saya. Pasrah..

Kegagalan seleksi STAN menambah panjang daftar kegagalan saya yang terangkum dalam beberapa bulan. UNS, Undip, UGM, Unpad, STAN..mereka menolak saya mentah-mentah. Mereka tidak memberi saya kesempatan untuk mengenakan almamater kebanggaan mereka. Saya terus berdoa, saya berharap masih ada perguruan tinggi yang mau menerima saya. Saya persempit waktu tidur saya. Sebulan mendekati SNMPTN, saya hanya tidur 3-4 jam dalam sehari. Waktu yang lain saya pergunakan untuk latihan soal dan beribadah. Padahal saat itu saya masih belum tahu, program studi apa yang akan saya ambil saat SNMPTN nanti? Perguruan tinggi mana yang nantinya saya coba untuk mendaftar lagi?

Jujur, saya merasa jauh lebih siap untuk bertempur dengan soal-soal seleksi. Dengan modal belajar saya yang sudah mati-matian selama sebulan ini, saya menjadi yakin kalau kali ini ada PTN yang ikhlas menerima saya. Timbul juga keyakinan untuk kembali mengejar keinginan saya menjadi dokter. Tetapi akhirnya saya urungkan niat itu. Saya merasa pemikiran itu amatlah sombong. Saya berpikir, kegagalan saya selama ini pastilah ada maksud yang terselubung. Saya mual saat melihat darah, saya takut jarum suntik, apa kondisi seperti itu memungkinkan saya untuk menjadi dokter. Kalaupun mungkin, tetapi tetap saja aneh rasanya. Padahal, program studi yang saya ambil saat kuliah, ilmu itulah yang nantinya akan saya amalkan selama saya masih hidup. Saya suka makan, saya suka memasak, saya tertarik dengan segala sesuatu yang berbau pangan, dan saya juga suka meneliti. Lalu, kenapa tidak pilih teknologi pangan saja? Yah, akhirnya pilihan saya jatuh pada teknologi pangan IPB, dan alhamdulillah saya lolos seleksi SNMPTN. Jadi, disinilah saya sekarang berada, di kampus nan hijau dengan arsitektur yang identik dengan segitiga. Salah satu PTN terbaik kebanggaan bangsa. SENAAAAANG !!! \ ^-^/

Semua akan indah pada waktunya… never give up!  ^-^

Comments

cerita inspirasi 47

Nama   : Retno Wulandari

NRP    : F24100131

Laskar : 2

Kesaksian Hidup dibalik Meledaknya Pesawat Luar Angkasa Challenger, USA.

Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun terjadilah.

Gedung putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan! Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center. Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir.
Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara.
Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini?
Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa.

Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam? Aku berpaling pada ayahku. Katanya, “Semua terjadi karena suatu alasan.”

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang. Aku teringat kata-kata ayahku,
“Semua terjadi karena suatu alasan.”

Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini.
Aku memiliki misi lain dalam hidup.
Aku tidak kalah; aku seorang pemenang.
Aku menang karena aku telah kalah.
Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan

Comments